Tak Terima Tambang Yang Di Backup Masuk Berita, Seorang Pria Lakukan Penganiayaan Kepada Wartawan

BELITUNG TIMUR, inspirasiberita.com – Seorang laki-laki berinisial L dilaporkan secara resmi oleh Wartawan Tabloid Belitung Betuah, Arya (23) ke SPKT Polres Belitung terkait dugaan tindak pidana penganiayaan, pada Kamis (03/03/2022).

Penganiayaan yang dialami Arya, terkait pemberitaan penertiban aktivitas penambangan biji timah ilegal yang berlokasi di Desa Sukamandi Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, puluhan penambang ditempat tersebut ditertibkan oleh Tim Gabungan terdiri dari Bareskrim Polri, Puspom TNI, dan Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Selasa (01/03/2022) lalu.

Setibanya di SPKT Polres Belitung Timur, Arya didampingi kuasa hukumnya Fahriani dan Pimpinan Redaksi Tabloid Belitung Betuah Yusnani, sekira pukul 13.00 Wib.

Kuasa Hukum Tabloid Belitung Betuah Fahriani mengatakan, laporan tersebut telah diterima Polres Belitung Timur dengan Surat Tanda Bukti Laporan (STBL) Nomor: STBL/B-074/III/2022/SPKT/RES BELTIM/POLDA BABEL.

“Hari ini kami melaporkan seseorang berinisial L karena telah melakukan tindakan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap klien kami yakni Arya (23) pada saat menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis yang bertugas di wilayah Belitung Timur,” katanya.

Ia menilai, tindakan yang dialami kliennya tersebut telah mengarah ke tindakan intimidasi terhadap seorang jurnalis. Dimana, seorang jurnalis dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh Undang-Undang Pers Nomor 4 Tahun 1999.

Menurut Fahriani, pihaknya mengambil tindakan tegas dengan melaporkan perbuatan tersebut ke Polres Belitung Timur. Agar hal semacam itu kedepannya tidak terulang kembali dan dialami oleh oknum jurnalis lain.

“Kami kedepannya tidak ingin ada kisah-kisah baru bahwa wartawan mendapatkan intimidasi, padahal peran wartawan untuk meliput berita yang aktual dan fungsinya banyak kepada masyarakat menjadi terhalang,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kliennya mendapatkan tindakan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan baik secara verbal dan non verbal serta secara fisik maupun psikis.

Fahriani menceritakan, pada saat itu kliennya Arya (23) sedang berada di warung kopi, tiba-tiba seseorang berinisial L datang dan bertanya terkait pemberitaan yang dibuat oleh Arya. Serta, sempat terjadi keributan kecil di lokasi kejadian.

Selanjutnya, saudara L langsung mencengkram bagian leher kliennya sehingga membuat kliennya berada dalam posisi tertunduk. Setelah itu, tangan saudara L mengenai pelipis mata kliennya sehingga menyebabkan memar.

“Kami juga sudah melakukan visum untuk melengkapi laporan” jelasnya.

Kemudian, saudara L juga melakukan intimidasi dan ancaman agar klien kami tidak melakukan peliputan di wilayah Belitung Timur.

“Sedangkan kita tahu seorang jurnalis bisa ditugaskan melakukan peliputan di mana saja dan itu diatur dalam Undang-Undang Pers. Sehingga dimanapun jurnalis bertugas berada dalam lindungan undang-undang,” ungkap Fahriani.

Ia menambahkan, bahwa saat ini pihaknya menyerahkan sepenuhnya permasalahan tersebut kepada kepolisian untuk diproses sesuai dengan aturan undang-undang dan hukum yang berlaku.

“Karena kami percaya di negara ini masih ada aparat-aparat penegakan hukum yang memang ingin menegakan hukum,” pungkasnya. (Ozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *